Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2013

CARA MEMBUAT MASTER SOAL DAN KARTU SOAL SECARA OTOMATIS


Bagi anda yang berprofesi guru tentunya akan dihadapkan pada ujian-ujian siswa untuk itu guru perlu membuat soal ujian yang akan diujikan kepada siswa, tidak hanya membuat butir soal guru juga dituntut untuk membuat perangkat soal yang terdiri dari: Butir Soal, Kartu Soal, Kisi-kisi, Kartu Telaah, dsb. Pada kesempatan kali ini kita akan mencoba membuat Butir Soal dan Kartu soal dengan cepat dan otomatis. 

Dalam membuat soal ujian langkah yang harus dilakukan dahulu adalah dengan menentukan kisi-kisi soal yang akan diujikan jangan sampai dibalik, membuat soal dahulu kemudian membuat kisi-kisinya. Jika kita membuat kisi-kisi soal terlebih dahulu maka untuk membuat butir soalnyapun akan terasa lebih mudah dikarenakan ada panduan sebelumnya dari kisi-kisi yang sudah kita buat tadi.
Setelah membuat kisi-kisi soal barulah kita membuat Butir soal dan Kartu soal, biasanya butir soal yang diminta tersebut itu terdiri dari 2 macam soal yaitu soal kode A dan soal kode B, berarti kita akan membuat butir soal sebanyak 2 buah, yang sering dilakukan pada umumnya adalah membuat kisi-kisi soal, membuat soal A dan B, membuat kartu soal dan dilakukan secara manual, dengan sedikit trik kita hanya membuat 1 Master soal saja dan itu semua otomatis output yang dihasilkan adalah Butir Soal (A dan B) serta Kartu soal.

Langkah-langkah untuk membuat :
  1. Buatlah terlebih dahulu kisi-kisi soal (ini manual tidak bisa otomatis)
  2. Dengan panduan dari kisi-kisi soal, mulai buatlah master soal kode A dengan nama file mastersoal-A.doc/.docx (Office Word) dengan format seperti berikut ini :
    Contoh Tabel Master Soal
    Master soal - mahir-tik.com
    Tabel diatas bisa disesuaikan dengan kebutuhan anda masing-masing. Master soal ini adalah master dari butir soal yang akan kita buat dan kartu soal, jadi didalam master soal ini harus benar sehingga tidak ada kesalahan dalam butir soal atau kartu soal yang dihasilkan, kita cukup membuat ini saja tidak perlu membuat lagi kartu soal, jumlah soal disesuaikan dengan kebutuhan anda.
  3. Setelah selesai membuat master soal langkah selanjutnya adalah mempersiapkan untuk membuat soalnya. Buatlah tampilan seperti contohnya berikut ini

    Selain option multiple choice diatas anda bisa membuat pilihan yang lain sesuai dengan kreasi anda berikut ini adalah contoh optiopn multiplechoice yang bisa digunakan.
    Contoh pilihan option multiple choice
    multiplechoice - mahir-tik.com
    Tampilan diatas adalah tempat untuk memasukkan data dari master soal yang sudah kita buat tadi. Jika anda kesulitan membuat tabel yang dimaksud bisa download DISINI.
  4. Agar supaya data pada master soal yang kita buat tadi bisa otomatis muncul dalam butir soal maka kita bisa memanfaatkan fungsi mailmerge pada Ms-Word yang saya gunakan disini adalah MS-Word 2007.
  5. Cara mengaktifkan fungsi mailmerge di Word adalah :
  • Pilih dan tekan mailing à Start Mail Merge à Step by Step Mail Merge Wizard

  • Pada kotak dialog sebelah kanan tekan Next sampai muncul perintah mencari data master (source) à
    pilih Browse..

  • Cari dan masukkan file mastersoal-A.docx yang sudah anda buat sebelumnya, pilih Word Documents (*.docx) à OK.

  • Jika muncul kotak dialog mailmerge recipient Tekan OK

  • Masukkan field ke table yang sudah ada misalnya seperti tampilan dibawah ini.

  • Pilih Preview Result (untuk melihat hasilnya)

  • Maka hasilnya adalah seperti berikut (tabel tidak akan terlihat jika dicetak)

  • Langkah sudah selesai
  • Untuk menambah jumlah tampilan soal sampai soal yang diinginkan tinggal anda tambahkan Rules à Next Record

  • Copy tabel untuk tampilan soal berikutnya dengan ditambah Next Record pada akhir tabel. Jadi tampilan seperti berikut ini..

  • Langkah selesai anda bisa menambahkan jumlah tabel sesuai dengan kebutuhan anda pilih preview dan file bisa di cetak.
  1. Langkah diatas bisa juga diaplikasikan untuk membuat kartu soal, berikut ini adalah contoh dari kartu soal bisa anda Download DISINI, untuk membuat kartu soal secara otomatis bisa anda lakukan dengan cara mengikuti langkah-langkah diatas.
  2. Yang kita kerjakan diatas itu hanya untuk Master Soal A saja yang menghasilkan butir soal A dan Kartu Soal A, jika anda ingin membuat Master soal B maka harus anda acak soal-soal pada Master soal, cara mengacak soal dengan cepat bisa anda ikuti tutorialnya di http://mahir-tik.com/2011/03/18/cara-mengacak-soal-dengan-cepat-dan-mudah/ 
    Sumber :

Senin, 25 Maret 2013

ANALISIS BUTIR SOAL


            Analisis butir adalah proses menguji respon-respon siswa untuk masing-masing butir tes dalam upaya menjustifikasi kualitas item. Kualitas item, khususnya direpresentasi oleh tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan reliabilitas, dan khusus untuk tes pilihan ganda tidak kalah pentingnya adalah keefektifan pengecoh dan omit. Tujuan analisis butir soal yaitu untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang baik, dan soal yang buruk.
        Secara umum, tes diartikan sebagai alat yang dipergunakan untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan obyek terhadap seperangkat konten dan materi tertentu. Tes berfungsi sebagai alat pengukuru keberhasilan belajar siswa.
Menurut Arikunto (2009) tes yang baik harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:1) Harus efisien (Parsimony); 2) Harus baku (Standardize); 3) Mempunyai norma; 4) Objektif; 5) Valid (Sahih); 6) Reliabel (Andal). Oleh sebab itu untuk memperoleh tes yang baik, tes tersebut harus di ujicobakan terlebih dahulu dan hasilnya dianalisis sehingga memenuhi syarat-syarat tersebut di atas.
Penyusunan dan pengembangan tes dimaksudkan untuk memperoleh tes yang valid sehingga hasil ukurnya dapat mencerminkan secara tepat hasil belajar atau prestasi belajar yang dicapai oleh masing-masing individu peserta tes. Untuk itu, langkah-langkah yang ditempuh dalam mengembangkan tes antara lain:
1.   Menentukan tujuan tes. Tujuan dalam mengadakan tes ini harus jelas sesuai dengan keperluan.
2.   Melakukan analisis kurikulum, dilakukan dengan cara melihat dan menelaah kembali kurikulum yang ada berkaitan dengan tujuan tes yang telah ditetapkan. Langkah ini dimaksudkan agar dalam proses pengembangan instrumen tes selalu mengacu pada kurikulum (SK dan KD) yang sedang digunakan, dan sesuai dengan indikator pencapaian suatu KD.
3.   Analisis sumber belajar (buku pelajaran dan sumber materi lainnya). Tes yang diukur hendaknya mencakup materi pelajaran yang telah ditetapkan. Hal ini dimaksudkan agar memperkecil kekeliruan dalam memilih bahan untuk tes
4. Menyusun kisi-kisi instrumen. Kisi-kisi atau yang biasa disebut dengan tabel spesifikasi merupakan format yang memuat informasi mengenai ruang lingkup dan isi/kompetensi yang akan dinilai/diujikan. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penilaian dan digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan soal. Kisi-kisi harus mengacu pada SK dan KD, dan komponen-komponennya harus rinci, jelas, dan bermakna.
5.  Menulis TIK (Tujuan Instruksional Khusus) / Indikator. Penulisan TIK/indikator harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam kisi-kisi. Indikator biasanya kita buat sendiri, mengacu pada SK dan KD.
6.  Menulis soal. Setelah kisi-kisi dalam bentuk tabel telah tersedia, maka kita harus membuat butir-butir soal sesuai yang tercantum dalam kisi-kisi. Soal-soal yang ditulis tidak boleh menyimpang dari indikator yang telah dirumuskan sesuai dengan kisi-kisi. Tahapannya mencakup: review soal (menelaah soal), seleksi soal, selanjutnya merakit soal menjadi tes
7.   Melakukan telaah instrumen secara teoritis. Telaah instrumen tes secara teoritis atau kualitatif dilakukan untuk melihat kebenaran instrumen dari segi materi, konstruksi, dan bahasa.
8.  Reproduksi tes terbatas. Tes yang sudah dibuat (sudah jadi) diperbanyak dalam jumlah yang cukup menurut jumlah sampel yang akan diuji coba.
9.  Melakukan uji coba dan analisis hasil uji coba tes. Sebelum tes digunakan perlu dilakukan terlebih dahulu uji coba tes. Langkah ini diperlukan untuk memperoleh data empiris terhadap kualitas tes yang telah disusun. Berdasarkan hasil uji coba, dilakukan analisis terutama analisis butir soal yang meliputi reliabilitas, validitas butir, tingkat kesukaran, pola jawaban, efektifitas pengecoh, daya pembeda, dan lain-lain.
10.Merevisi soal. Berdasarkan hasil analisis butir soal hasil ujicoba kemudian dilakukan perbaikan. Berbagai bagian tes yang masih kurang memenuhi standar kualitas yang diharapkan perlu diperbaiki sehingga diperoleh perangkat tes yang lebih baik. Setelah tersusun butir soal yang bagus, kemudian butir soal tersebut disusun kembali untuk menjadi perangkat instrumen tes, sehingga instrumen tes siap digunakan.

1.      Menghitung Indeks Kesukaran
  Dalam menghitung indeks kesukaran tiap butir soal digunakan rumus:

1)      0,00-0,30 tergolong sukar.
2)      0,31-0,70 tergolong sedang
3)      0,71-1,00 tergolong mudah.  (Arikunto, 2009)
Dari hasil perhitungan indeks kesukaran maka kemungkinan tidak semua soal dapat terambil. Soal yang mempunyai indeks kesukaran sedang yang dapat diambil.
2.      Menghitung Daya Pembeda
  Untuk menghitung daya pembeda digunakan rumus:
  Di mana    A = jumlah kelompok atas yang menjawab benar,
                  B = jumlah kelompok bawah yang menjawab benar,
                  N =jumlah peserta tes
  Klasifikasi daya pembeda:
0,00 - 0,20 : jelek (poor)
0,20 – 0,40 : cukup (satisfactory)
0,40 – 0,70 : baik (good)
0,70 – 1,00 : baik sekali (excellent), diterima
negatif       : tidak baik, sebaiknya dibuang  (Arikunto, 2009)
  Setelah diadakan perhitungan daya beda maka dari sejumlah soal yang disusun kemungkinan tidak semuanya dapat terambil. Soal yang dapat terambil adalah soal yang mempunyai daya beda cukup, baik dan baik sekali.
3.      Keberfungsian Pengecoh (Distraktor)
Distraktor adalah suatu pola yang menggambarkan bagaimana peserta tes menentukan pilihan jawabannya terhadap kemungkinan-kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada setiap butir item. Pengecoh (distractor), bertujuan untuk mengecoh mereka yang kurang mampu (tidak tahu) untuk dibedakan dengan yang mampu (lebih tahu).
Pada tes pilihan ganda, tiap butir soal menggunakan beberapa pengecoh (distraktor / penyesat / option). Tiap pengecoh hendaknya bermanfaat atau berfungsi, yakni ada sejumlah siswa yang memilihnya. Pengecoh yang tidak dipilih sama sekali oleh siswa berarti tidak berfungsi mengecohkan siswa, sebaliknya pengecoh yang dipilih oleh hampir semua siswa berarti terlalu mirip dengan jawaban yang benar.
Suatu kemungkinan dapat terjadi, yaitu bahwa dari keseluruhan alternatif yang dipasang pada butir item tertentu, sama sekali tidak dipilih oleh testee. Dengan kata lain, testee menyatakan “blangko”. Pernyataan blangko ini sering dikenal dengan istilah omiet dan biasa diberi lambang dengan huruf O.
Distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distraktor tersebut sekurang-kurangnya sudah dipilih oleh 5% dari seluruh peserta tes.
Sebagai tindak lanjut atas hasil penganalisaan terhadap fungsi distraktor tersebut maka distraktor yang sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik dapat dipakai lagi pada tes-tes yang akan datang, sedangkan distraktor yang belum dapat berfungsi dengan baik sebaiknya diperbaiki atau diganti dengan distraktor yang lain.
4.      Validitas Item
Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran. Untuk mencari validitas menggunakan rumus:
Mp        = rerata skor dari subjek yang menjawab benar bagi item yang dicari validitasnya
Mt           = rerata skor total
Sd        = standar deviasi dari skor total
p          = proporsi siswa yang menjawab benar (indeks kesukaran)
q          = proporsi yang menjawab salah (q = 1-p)
             
            Interpretasi validitas:
0,800 – 1,00    : sangat tinggi
0,600 – 0,800  : tinggi
0,400 – 0,600  : cukup
0,200 – 0,400  : rendah
0,00 – 0,200    : sangat rendah
Kriteria validitas:
>0,29 maka VALID, <0,29 maka INVALID (Sumarna. 2004)
5.      Reliabilitas
Tujuan utama menghitung reliabilitas skor tes adalah untuk mengetahui tingkat ketepatan (precision) dan keajegan (consistency) skor tes.
Untuk mencari nilai reliabilitas, digunakan rumus: 
x          = skor butir soal ganjil
y          = skor butir soal genap
n          = jumlah peserta tes
Setelah itu nilai dari rxy dimasukkan ke dalam rumus: 
r11=2 (rxy) dibagi 1+ rxy
Kriteria reliabilitas:
1,00     : tinggi
> 0,700: cukup
< 0,700: rendah (Sumarna. 2004)

Untuk contoh software Analisis Butir Soal, silahkan download di sini

Daftar Pustaka

Arikunto, S. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara
Nurkancana, W. 1986. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Surapranata, Sumarna. 2004. Analisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes. Jakarta: Remaja Rosdakarya.
Djaali dan Pudji Muljono. 2007. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
http://lussysf.multiply.com/journal/item/114
http://simpelpas.wordpress.com/2011/04/12/analisis-soal/
Sumber:
http://iznaparadise.blogspot.com

Sabtu, 26 Januari 2013

PERANGKAT PEMBELAJARAN TIK BERKARAKTER

Untuk Bapak, Ibu guru pengajar TIK, di sini saya mau share untuk perangkat pembelajaran TIK berkarakter. Silahkan diedit sesuai dengan kebutuhan.
Berikut link yang bisa didownload :

http://www.4shared.com/rar/nlcZ722g/RPPTIK.html

Sabtu, 26 Mei 2012

CONTOH PTK PKN


PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL 
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKN 
SISWA KELAS .......... SDN ................ 
TAHUN PELAJARAN ............

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Sebagian besar diantara kita tidak menyadari bahwa kegiatan belajar kita semakin mengalami kemunduran. Belajar semakin hari semakin menjadi kegiatan yang membosankan, statis dan stressful. Di sekolah situasinya juga tidak jauh berbeda, anak-anak kuyu, mengantuk, bosan, malas dan tidak termotivasi sementara guru tak jarang pula mengabaikan dirinya sendiri. Di sisi lain guru mengajar dengan materi yang sama dari tahun ke tahun, ataupun catatan yang sama, banyak materi hafalan, gaya mengajar tidak berubah, standard, formal dan kaku. Indonesiapun sekarang kalah dengan Malaysia padahal mereka dahulu justru belajar ke negeri ini bahkan Indonesia menjadi negara paling korup di Asia.
Kurikulum 2004 mengemukakan bahwa kegiatan pembelajaran PKn lebih diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa belajar aktif dan secara fisik, sosial maupun psikis dalam memahami konsep. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran PKn hendaknya guru menggunakan model yang membuat siswa banyak beraktifitas. Dengan banyaknya aktifitas yang dilakukan, diharapkan dapat menimbulkan rasa senang dan antusias siswa dalam belajar. Dengan demikian, pemahaman konsep PKn semakin lebih bauk dan hasil belajarnya pun makin meningkat.

B.   Rumusan Masalah
Atas dasar paparan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas ........ SDN ................................................................. Tahun Pelajaran .............

C.  Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang ada, penulisan ini bertujuan untuk:
1.       Mengetahui seberapa jauh peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran PKn di kelas ........ SDN ................................................................. Tahun Pelajaran .............
2.       Mengetahui pengaruh model pembelajaran kontekstual dalam mata pelajaran PKn di kelas ........ SDN ................................................................. Tahun Pelajaran .............


 D.  Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini memberi manfaat bagi sekolah, guru, dan murid yang menjadi obyek penelitian khsusunya dan bagi calon siswa kelas ........ umumnya.
1.   Bagi sekolah, sebagai penentu kebijakan dalam usaha meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya mata pelajaran PKn.
2.   Bagi guru, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan model pembelajaran yang ada menfaatnya bagi siswa.
3.   Bagi siswa, dapat meningkatkan motivasi belajar agar siswa senang terhadap mata pelajaran PKn dan meningkatkan prestasi belajar siswa.

E.   Ruang Lingkup dan Pembatasan
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sangat dipandang perlu adanya ruang lingkup dan pembatasan penelitian.
Adapun ruang lingkup dan pembatasan masalah yang dimaksud adalah :
1.   Penelitian ini hanya dilaksanakan pada kelas ........ SDN ................................................................. Tahun Pelajaran .............
2.   Penelitian ini penulis laksanakan pada bulan ……….. semester genap tahun pelajaran .............
3.   Materi pelajaran yang penulis adakan penelitian adalah PKn, pokok bahasan ......................

SELENGKAPNYA, SILAHKAN UNDUH DI SINI

DAFTAR NILAI PRAKTIKUM TIK KELAS IXTH.2011/2012

Untuk anak-anakku siswa-siswi kelas IX A-G Ponpes Al-Islam Joresan,berikut daftar nilai praktikum untuk pelajaran TIK.

Silahkan download di sini

Kamis, 17 Mei 2012

BACKPROPAGATION

Algoritma pelatihan Backpropagasi (Back Propagation) atau ada yang menterjemahkannya menjadi propagasi balik, pertamakali dirumuskan oleh Werbos dan dipopulerkan oleh Rumelhart dan McClelland untukdipakai pada jaringan saraf tiruan dan selanjutnya algoritma ini biasa disingkat dengan BP. Algoritma ini termasuk metoda pelatihan supervised dan didesain untuk operasi pada jaringan feed forward multi lapis.

Selengkapnya, silahkan download di sini

MEKANISME SISTEM KOMPUTER

A.    Komponen Sistem Komputer Layaknya internet, komputer adalah benda wajib yang harus dimiliki di era digital seperti sekarang. Banyak ...